Kategori: Opini

  • Paradox Negara: Menghisap Asap, Membangun Semen

    KABARBROMO.COM – Ada kontradiksi mendasar yang bersemayam dalam dada kebijakan publik kita. Sebuah ironi yang dibungkus dengan alasan kesejahteraan, namun secara konseptual sebenarnya memperlihatkan kerapuhan etika bernegara. Di satu sisi, negara tampil dengan wajah moralis yang agung. Lewat kampanye kesehatan yang masif, negara berkhotbah di setiap sudut ruang publik, di bungkus-bungkus rokok, bahkan di fasilitas kesehatan: “Rokok membunuhmu.” Negara menempatkan dirinya sebagai pengayom nyawa, penjaga kesehatan publik, dan benteng moral yang memperingatkan warganya akan bahaya kehancuran fisik.

    Namun, perhatikan tangan satunya. Tangan kanan negara mengetuk palu menaikkan cukai rokok setiap tahun. Tangan yang sama meneruk Pajak Rokok dan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) untuk kemudian mengalokasikannya ke dalam pundi-pundi APBN dan APBD. Uang dari tembakau itu dialirkan untuk menambal defisit BPJS, membangun puskesmas, melebarkan jalan raya, hingga menyemen jembatan-jembatan beton di daerah.

    Di sinilah letak paradoksnya. Negara mengutuk zatnya, tetapi menikmati hasilnya. Negara membenci perokoknya, tetapi merindukan uangnya.

    Mari kita bedah arsitektur berpikirnya secara jernih. Jika negara konsisten dengan narasi keberlanjutan hidup warganya, bahwa rokok adalah zat pembunuh yang harus dimusnahkan, maka tindakan logis dari sebuah otoritas moral adalah menghentikan produksinya, menutupi industrinya, dan menghapus keberadaannya dari ranah publik. Itu yang dinamakan konsistensi etis.

    Namun yang terjadi justru sebaliknya. Negara memilih jalan tengah yang ambigu: mengontrol barangnya lewat tarif cukai tinggi dengan dalih disinsentif (menekan konsumsi), sembari mengunci penerimaannya sebagai pos pendapatan yang tak boleh goyah. Logika ini mengalami cacat epistemologis. Apabila kampanye kesehatan itu berhasil 100 persen dan seluruh warga negara berhenti merokok besok pagi, bayangkan apa yang terjadi pada postur anggaran pembangunan kita? Infrastruktur daerah akan timpang, fasilitas kesehatan kekurangan dana, dan penerimaan negara terhempas.

    Artinya, secara tidak langsung, keberlangsungan infrastruktur fisik di negeri ini digantungkan pada keberlanjutan kebiasaan buruk masyarakatnya. Ada dependensi yang tak terakui: pembangunan negara membutuhkan paru-paru yang terus dihisap. Negara berada dalam dilema moral di mana ia berdoa agar warganya sehat, tetapi secara implisit berharap pasokan cukai tidak pernah surut.

    Kenaikan cukai yang terus menerus dijustifikasi atas nama pengendalian konsumsi. Namun, jika kita telisik dari sudut pandang ekonomi politik, kenaikan tarif yang terus melambung tanpa menutup industri pada dasarnya adalah bentuk manipulasi instrumen. Negara memanipulasi ketergantungan (adiksi) publik untuk dijadikan sumber penerimaan yang sangat mudah diprediksi (inelastic demand). Warga yang sudah teradopsi oleh nikotin akan tetap membeli meski harga naik, dan selisih kenaikan itu langsung masuk ke kantong perbendaharaan negara untuk membiayai proyek-proyek fisik.

    Apakah salah membangun jalan, jembatan, dan rumah sakit menggunakan DBHCHT? Dari sudut pandang teknokratis utilitarian, tentu saja tidak. Hasilnya nyata dan bisa dirasakan. Namun, analisis kebijakan publik tidak boleh berhenti pada hasil akhir (result), melainkan harus menguji fondasi pemikirannya (principle). Ketika infrastruktur publik didirikan di atas fondasi pajak barang yang dicap “membunuh”, terjadi kompromi nilai dalam tatanan bernegara.

    Negara tidak boleh memelihara hipokrisi institusional. Kamu tidak bisa menjadi hakim moral di pagi hari dan menjadi penagih sewa di sore hari atas objek moral yang sama. Jika rokok dinilai sebagai ancaman eksistensial bagi kualitas manusia Indonesia, maka kebijakan yang dilahirkan haruslah berorientasi pada penyelesaian mendasar, bukan sekadar menjadikannya mesin anjungan tunai mandiri (ATM) yang dibungkus dengan narasi kesehatan.

    Pada akhirnya, kontradiksi ini memperlihatkan bagaimana logika fiskal telah menundukkan logika etika. Infrastruktur terbangun gagah, semen-semen memeras jalanan, tetapi di atas fondasi pemikiran yang retak secara konseptual. Negara harus berani memilih: berdiri sebagai pengayom kesehatan warganya secara murni, atau mengakui secara jujur bahwa industri tembakau adalah mitra strategis pembangunan yang tidak semestinya dihakimi dengan retorika moral yang setengah hati. (*)

     

  • Rolex, Ketua Komunitas Ubur-Ubur Ikan Lele, Ngamuk: “Panja Bukan Eksekutor, Jangan Sok Berkuasa!”

    Rolex, Ketua Komunitas Ubur-Ubur Ikan Lele, Ngamuk: “Panja Bukan Eksekutor, Jangan Sok Berkuasa!”

    Probolinggo, KabarBromo66.com – Kata “tolol” meluncur deras dari mulut Ketua Komunitas Ubur-ubur Ikan Lele, Rolex, saat menyindir langkah Panitia Kerja (Panja) Pupuk DPRD Kabupaten Probolinggo. Bukan tanpa alasan, ia menilai Panja bertindak di luar kewenangan dan memperkeruh persoalan kelangkaan pupuk di tengah masyarakat.

    “Panja itu bukan eksekutor! Nggak bisa semena-mena mau somasi atau memberhentikan orang. Itu namanya tolol!” tegas Rolex saat menghadiri rapat konsolidasi wartawan dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di rumah Abdullah Irawan, Desa Tamansari, Kecamatan Kraksaan, Rabu (12/5/2025).

    Dalam pernyataannya, Rolex menyebut bahwa penanganan pupuk bersubsidi bukan ranah penyidik Polres, apalagi Tipiter. Menurutnya, hal itu merupakan tugas pokok dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) melalui pembentukan satuan tugas khusus bersama dinas terkait.

    “Kalau di Surabaya ada polisi ekonomi yang khusus, di sini (Probolinggo) belum ada. Makanya perlu PPNS khusus pupuk agar tidak terus terjadi kegaduhan,” ungkapnya.

    Ia juga mengkritik ketetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang tidak mempertimbangkan beban riil pengusaha lokal. Biaya sewa tempat, upah karyawan, hingga ongkos angkut tidak pernah dimasukkan dalam hitungan.

    “HET itu harus disusun berdasarkan kearifan lokal. Jangan asal tetapkan dari pusat. Modal usaha kan beda-beda, nggak bisa disamaratakan,” tambah Rolex.

    Lebih lanjut, ia menilai bahwa kebijakan Pemkab harus berpijak pada realitas lapangan, bukan hanya angka di atas kertas. Pupuk yang langka dan harga yang melambung membuat petani tercekik. Namun, justru lembaga seperti Panja DPRD yang seharusnya menampung aspirasi masyarakat, malah dinilainya menjadi bagian dari kegaduhan.

    “Panja tugasnya cuma mengakomodir, bukan menilai atau mengancam. Kalau mulai ikut-ikutan intervensi, itu namanya ngawur!” katanya dengan nada tinggi.

    Rolex bahkan menuding adanya penelantaran kewenangan oleh pemangku kebijakan yang membuat persoalan pupuk tak kunjung selesai. Ia menegaskan bahwa masalah ini harus segera dikembalikan ke jalur konstitusional, yaitu melalui Pemkab dan dinas terkait.

    “Kalau begini terus, siapa yang dirugikan? Petani! Rakyat kecil!” pungkasnya.

  • Selamat Harlah ke-65: Apakah Jhon Qudsi dari PMII Cabang Katolik?

    Selamat Harlah ke-65: Apakah Jhon Qudsi dari PMII Cabang Katolik?

    Saya merasa terpanggil, pada ulang tahun PMII kali ini, untuk sekadar mengucapkan: selamat hari lahir, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Yang ke-65, bila tak salah hitung. Di sanalah, dalam lorong-lorong diskusi dan perdebatan, saya banyak belajar. Dari para sahabat dan sahabati di PMII Komisariat UNZAH, terutama di Rayon Al-Irsyad.

    Mereka mengajak saya duduk. Bicara. Merenung. Dari filsafat hingga politik. Topik-topik yang, awalnya, terdengar asing. Tapi mereka tidak menggurui. Mereka mengajak berpikir.

    Dalam beberapa kesempatan, saya pernah diajak menyaksikan proses masa penerimaan anggota baru (Mapaba) PMII. Menyaksikan mereka, para calon kader pergerakan, dengan mata yang menyala. Entah kenapa, saya tak pernah terlalu paham hubungan antara saya dan PMII. Terlalu jauh, atau dekat tapi saya tak menyadari.

    Kalau ditelusuri ke belakang, saya pertama kali bertemu dengan sahabat Fais dari Rayon Al-Irsyad di Perpusda Kabupaten Probolinggo. Basa-basi saja, soal kampus dan kuliah. Tapi ternyata, ia telah membaca banyak buku Filsafat.

    Kemudian, ia mengajak saya ke forum diskusi malam di alun-alun Kraksaan. Di situlah saya pertama kali berinteraksi dengan pengurus Rayon Al-Irsyad. Saya memanggilnya Yon Jeki. Ia tidak banyak bicara, tapi ketika berbicara ia seperti tahu banyak hal yang saya belum tahu.

    Saya diajak ke rapat konsolidasi. Tentang demonstrasi menuntut transparansi anggaran daerah. Saat itu, kami menuntut Pj Bupati Probolinggo. Di sanalah saya mulai berpikir: gagasan, ide, itu tak bisa tinggal di kepala. Harus diucap. Harus diperjuangkan. Harus disuarakan.

    Hubungan saya dengan teman-teman PMII UNZAH pun kian erat. Merambat ke ruang-ruang kelas, ke acara internal mereka, saya punya sedikit bekal di dunia sastra, terutama puisi. Dan, entah bagaimana, kami menemukan kesamaan napas. Mungkin karena kami sama-sama mengagumi buku.

    Bahkan, ada yang mengira saya mahasiswa. Anggota PMII. Mungkin karena saya sudah terlanjur jatuh pada dunia aktivisme.

    Barangkali di antara mereka bertanya-tanya, “PMII cabang mana?”

    Dengan senyum kecil, ingin saya menjawab, “Saya dari PMII cabang Katolik.”

    Itu gurauan, tentu saja. Tapi juga bentuk rasa cinta. Karena sebelum saya mengenal PMII secara formal, saya sudah lebih dulu mencintai Mahbub Djunaidi sang pendiri dengan tulisan-tulisannya yang tajam dan jenaka. Ia mengkritik Orde Baru dengan cara yang halus tapi menusuk. Ia mengubah kritik.

    Ada satu kutipan darinya yang saya ingat. Dikutip oleh Sujiwo Tejo, bunyinya kira-kira begini:

    “Jangan kau kira menulis adalah pekerjaan sunyi. Cepat atau lambat, tulisan itu akan menyebar.”

    Praktisi hukum, Khofy Al Qurtuby. Ia menitipkan pesan melalui tulisan ini:

    “Saat ini, menurut saya, mahasiswa harus meminta salinan APBD Kabupaten Probolinggo tahun 2025.

    Supaya tahu sumber primer. Jangan hanya polemik di media.

    Temanya: aktivisme mahasiswa membangun demokrasi dan transparansi pasca dinasti.

    Banyak mahasiswa bicara infrastruktur, tapi tak punya data primer.”

    Meski sudah lewat berapa hari, 17 April 2025, ulang tahun ke-65 PMII. Selamat hari lahir ideologi pergerakan. Mohon maaf lahir dan batin, jangan menyerah terhadap segala bentuk penindasan dan ketidakadilan.