Penulis: Redaksi Satu

  • Kades Widoro Klarifikasi Isu Proyek Jalan Rabat Beton, Tegaskan Tak Ada Pengurangan Volume

    Kades Widoro Klarifikasi Isu Proyek Jalan Rabat Beton, Tegaskan Tak Ada Pengurangan Volume

    Probolinggo, KabarBromo66.com – Kepala Desa (Kades) Widoro, Abdul Jalil, akhirnya angkat bicara soal pemberitaan miring terkait proyek rabat beton di wilayahnya. Ia menegaskan, proyek tersebut bersumber dari Bantuan Keuangan (BK) Provinsi, bukan dari APBD sebagaimana yang ramai diberitakan.

    “Sudah keliru itu. Proyek ini nilainya hanya sekitar Rp300 juta, bukan Rp500 juta. Volume pekerjaannya 261,5 meter dan sudah selesai 100 persen,” ujar Jalil saat dikonfirmasi, Senin (15/4).

    Jalil juga membantah tudingan adanya pengurangan bahan material. Menurutnya, seluruh bahan yang digunakan sesuai spesifikasi, mulai dari pasir Lumajang asli hingga besi yang sesuai RAB. “Tidak ada pengurangan. Kami pakai pasir asli Lumajang, bukan sirtu. Besinya juga sesuai,” jelasnya.

    Menanggapi foto batu yang tersebar di media sosial, Jalil menjelaskan bahwa batu tersebut digunakan sebagai urugan untuk memperkuat dasar jalan. Kedalaman urugan disebutnya mencapai 30 cm sebelum pengecoran dilakukan.

    “Batu itu saya tata untuk meninggikan jalan. Baru setelah itu dicor, dan ketebalan cor tetap 20 cm seperti rencana awal,” imbuhnya.

    Meski mengakui tidak menggunakan tenaga ahli, Jalil menyatakan bahwa pihak desa memilih memberdayakan warga lokal demi peningkatan kesejahteraan masyarakat. “Saya lebih memilih warga sekitar yang kerja, termasuk yang belum pernah kerja bangunan. Ini upaya kami mensejahterakan mereka,” ungkapnya.

    Kades Widoro juga berharap agar media bisa menjadi mitra yang membangun dan tidak terburu-buru dalam membuat pemberitaan. “Saya harap teman-teman media ikut memberi motivasi yang positif, bukan langsung menjatuhkan tanpa klarifikasi. Termasuk pelapor, tidak pernah mengklarifikasi ke saya,” tegasnya.

    Menurutnya, proyek ini sudah diperiksa oleh inspektorat dan secara hitungan pribadi, ia bahkan merasa merugi demi memastikan kualitas bangunan tetap baik.

    “Saya tidak mencari musuh, saya ingin membangun desa. Kalau dihitung-hitung, justru saya rugi. Tapi saya ingin yang terbaik untuk masyarakat. Mari saling mendukung demi kemajuan bersama,” pungkasnya.

  • Mr Bogel: Larangan Tahan Ijazah Perlu Kajian Ulang untuk Sekolah Berbasis Pesantren

    Mr Bogel: Larangan Tahan Ijazah Perlu Kajian Ulang untuk Sekolah Berbasis Pesantren

    Probolinggo, KabarBromo66.com – Larangan penahanan ijazah bagi siswa yang telah lulus kembali ditegaskan oleh Pengawas SMA Provinsi Jawa Timur, H. Djoko Suryanto, M.Pd. Hal itu ia sampaikan saat melakukan kunjungan kerja ke SMA Zainul Hasan 1 Genggong, Kecamatan Pajarakan, Selasa (15/4).

    Dalam kunjungan tersebut, Djoko disambut langsung oleh Ustaz Abdullah, S.Pd., dan Muhammad Syifauddin selaku guru setempat. Ia menyatakan bahwa kebijakan pelarangan penahanan ijazah adalah instruksi langsung dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dan telah diteruskan ke seluruh cabang dinas di daerah.

    “Sekolah tidak boleh menahan ijazah alumni. Itu sudah jadi instruksi dari pusat,” tegas Djoko usai pertemuan.

    Namun, ia mengakui bahwa pelaksanaan kebijakan tersebut di sekolah swasta sering kali berbenturan dengan realitas di lapangan, khususnya soal pembiayaan yang dikelola oleh yayasan atau pondok pesantren.

    Di SMA Zainul Hasan 1 Genggong, kata dia, sistem pembayaran SPP ditetapkan sebesar Rp100 ribu per bulan dan sudah mencakup biaya pondok. Selain itu, ada biaya tahunan sekitar Rp1,2 juta yang dibayarkan di awal tahun ajaran. Setelah itu, siswa tak lagi dikenai pungutan tambahan hingga lulus.

    “Banyak siswa di sini yang tidak mampu tetap bisa sekolah bahkan lanjut kuliah, meskipun tidak membayar penuh sampai lulus,” jelas Djoko.

    Karena itu, ia berharap pemerintah bisa memberi ruang kebijakan dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing lembaga, terutama lembaga swasta berbasis pesantren.

    “Kalau ada pernyataan resmi dari yayasan, insyaallah pemerintah bisa menerima alasan tersebut,” imbuhnya.

    Pernyataan Djoko tersebut diamini oleh Muhammad Syifauddin atau yang akrab disapa Mr Bogel, salah satu guru di SMA Zainul Hasan 1 Genggong. Menurutnya, penahanan ijazah di sekolah swasta perlu dilihat dari sudut pandang tata kelola keuangan masing-masing lembaga.

    “Kalau di swasta, seperti di pesantren kami, para guru dibayar dari hasil pengelolaan SPP. Maka penahanan ijazah adalah bagian dari administrasi agar operasional dan hak guru tetap berjalan,” jelasnya.

    Mr Bogel menambahkan, kebijakan pelarangan penahanan ijazah mungkin dapat diterapkan di sekolah negeri atau swasta yang telah mapan secara finansial. Namun untuk sekolah berbasis pesantren, aturan itu perlu dikaji ulang.

  • Janji Penertiban Pasar Semampir Hanya Omong Kosong? Pedagang Masih Kuasai Bahu Jalan

    Janji Penertiban Pasar Semampir Hanya Omong Kosong? Pedagang Masih Kuasai Bahu Jalan

    Probolinggo, kabarbromo.com – Upaya penertiban pedagang yang masih nekat berjualan di bahu Jalan Teuku Umar, kawasan Pasar Semampir, Kecamatan Kraksaan, dinilai hanya sebatas formalitas. Pasalnya, hingga kini masih ditemukan pedagang yang berjualan di area terlarang, meski sudah dipasangi papan larangan beroperasi sejak pukul 05.00 hingga 17.00 WIB.

    Kondisi ini memantik kekecewaan warga. Salah satunya disampaikan Fauzi, pengguna jalan yang kerap melintas di kawasan tersebut. Ia menilai Pemkab Probolinggo tidak serius dalam menertibkan pelanggaran yang sudah berlangsung lama itu.

    “Masih ada pedagang yang berjualan di bahu jalan sekitar pukul 10.51 WIB, Sabtu (12/4/2025), padahal jelas-jelas ada larangan. Artinya, tidak ada pengawasan yang benar-benar melekat. Sudah saatnya dilakukan audit kinerja terhadap Kasatpol PP agar Probolinggo tidak hanya menjadi jargon ‘berbenah’, tapi benar-benar berubah,” ujar Fauzi kepada kabarbromo.com.

    Menanggapi hal itu, Kepala Satpol PP Kabupaten Probolinggo, Sugeng Wiyanto, menegaskan bahwa pihaknya serius dalam menata kawasan pasar agar tertib. Namun, ia mengakui bahwa perubahan budaya masyarakat dalam menaati aturan tidak bisa dilakukan secara instan.

    “Kami setiap pagi pukul 05.30 sudah standby di lokasi. Tapi persoalannya bukan hanya di jam operasional. Perlu ada kesadaran dari pedagang untuk tertib. Pemerintah saja tidak cukup, perlu dukungan masyarakat. Yang kita benahi bukan cuma fisik, tapi juga mental dan budaya,” tegas Sugeng.

    Ia menyebutkan, relokasi pedagang dari bahu jalan ke dalam pasar sudah dilakukan, namun masih banyak yang belum mematuhi. Satpol PP juga telah berkoordinasi dengan kelurahan, Muspika, DKUPP, DLH, dan Dishub untuk membentuk tim terpadu dalam penanganan masalah ini.

    “Solusi jangka pendek, pedagang yang tetap di bahu jalan harus masuk ke dalam pasar yang masih tersedia. Kalau jalan tetap dipakai berjualan, ya sulit mengurai kemacetan. Tujuan kami jelas: mengembalikan fungsi jalan dan menciptakan kenyamanan bersama,” pungkas Sugeng.

  • Diduga Menyalahgunakan APBDes, Kades Widoro Dilaporkan ke Kejari Kab. Probolinggo

    Diduga Menyalahgunakan APBDes, Kades Widoro Dilaporkan ke Kejari Kab. Probolinggo

     

     

    Probolinggo, kabarbromo66.con – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Aliansi Masyarakat Peduli Probolinggo (AMPP) melaporkan dugaan korupsi dalam penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa) di Desa Widoro, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, untuk tahun anggaran 2023 s/d 2024.

    Laporan ini telah disampaikan ke Kejaksaan Negeri Kabupaten Probolinggo pada 14 April 2025.

    Salah satu dugaan penyimpangan terjadi pada proyek pembangunan rabat beton yang tidak sesuai dengan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan. Selain itu, LSM AMPP juga mencurigai keterlibatan oknum anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dalam dugaan korupsi ini, khususnya terkait dana pokok pikiran (pokir) yang masuk ke Pemerintah Desa Widoro.

    Ketua AMPP, H. Lutfi Hamid, menyatakan bahwa “laporan ini telah dilengkapi dengan bukti pendukung dan tembusan ke Presiden RI, Sekretariat Kabinet Merah Putih, dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pihak Kejaksaan Negeri Kabupaten Probolinggo akan memberikan klarifikasi resmi terkait laporan ini”.

    Sementara itu, Kepala Desa Widoro belum berhasil dimintai tanggapannya terkait laporan tersebut.

    Laporan LSM AMPP dinilai menjadi bagian dari upaya masyarakat sipil dalam mengawal transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana desa, agar pembangunan di tingkat akar rumput benar-benar membawa manfaat bagi rakyat. ( bersambung) . Irawan.

  • ASN Diminta Perkuat Kolaborasi dan Sinergi Dalam Pelayanan Publik

    ASN Diminta Perkuat Kolaborasi dan Sinergi Dalam Pelayanan Publik

     

    KRAKSAAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo menegaskan pentingnya kolaborasi dan integritas Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam memberikan pelayanan publik.

    Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Probolinggo Fathur Rozi saat memimpin apel pagi bersama yang digelar di lingkungan Kantor Bupati Probolinggo, Senin (14/4/2025) pagi.

     

    Dalam suasana masih hangat pasca Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriyah, Rozi mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriyah kepada seluruh peserta apel. “Harapannya ibadah puasa yang telah dilaksanakan dapat diterima oleh Allah SWT dan membawa seluruh umat kembali dalam keadaan suci,” katanya.

    Menurut Rozi, apel pagi kali ini menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai-nilai profesionalisme di lingkungan ASN. Oleh karena itu pentingnya komitmen dan kedisiplinan sebagai bentuk kesiapan ASN dalam melayani masyarakat.

    “Kehadiran dalam apel pagi ini menjadi simbol integritas dan bukti nyata kesiapan kita dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Kita tidak hanya bekerja, tapi melayani,” tegasnya.

    Rozi mengingatkan seluruh ASN untuk memahami dan menjalankan seluruh proses pemerintahan secara menyeluruh mulai dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pelaporan hingga pertanggungjawabannya. Efisiensi anggaran yang terjadi pada APBD Kabupaten Probolinggo tahun 2025 bukanlah hambatan, melainkan tantangan yang harus dihadapi bersama.

    “Efisiensi bukan halangan, tapi tantangan yang mengharuskan kita bekerja lebih sinergi dan kolaboratif. Kita harus meninggalkan ego sektoral dan bergerak bersama, dari level pemerintah daerah, kecamatan hingga desa,” lanjutnya.

    Lebih lanjut Rozi menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai dasar ASN yang tidak hanya dijadikan slogan, tetapi benar-benar diimplementasikan dalam keseharian sebagai pelayan publik. Oleh karena itu seluruh ASN diajak untuk yakin dan bangga menjalani profesi sebagai abdi masyarakat dan negara.

    “Kita harus yakinkan diri bahwa kita profesional dan berintegritas. Dengan begitu, kita akan mampu memberikan pelayanan terbaik,” ujarnya.

    Rozi menegaskan bahwa sinergi antar instansi dan antar tingkatan pemerintahan akan menjadi kunci sukses pembangunan daerah. “Tanpa adanya kerja sama yang solid, berbagai program dan kebijakan tidak akan berjalan optimal,” tegasnya.

    Petugas apel pagi dalam kesempatan tersebut semuanya berasal dari Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Diskominfo) Kabupaten Probolinggo. Hery

     

  • Bupati Probolinggo Diminta Segera Ambil Terobosan Akibat Jembatan Pajarakan Sering Rusak

    Bupati Probolinggo Diminta Segera Ambil Terobosan Akibat Jembatan Pajarakan Sering Rusak

    Probolinggo, KabarBromo66.com – Kemacetan panjang akibat kerusakan Jembatan Pajarakan kembali memicu keluhan para pengguna jalan. Warga mendesak Bupati Probolinggo segera mengambil langkah konkret, termasuk berkoordinasi dengan Gubernur Jawa Timur guna mempercepat penanganan kerusakan yang terus berulang.

    Pantauan di lokasi, antrean kendaraan mengular hingga beberapa kilometer di jalur pantura. Para sopir dan pengguna jalan terlihat frustrasi akibat waktu tempuh yang molor hingga berjam-jam. Salah satu pengguna jalan, Hamid, menilai pemerintah daerah kurang sigap dan cenderung lambat dalam merespons kondisi tersebut.

    “Kalau saya jadi bupati, saya akan gelontorkan uang pribadi. Itu bisa disebut sedekah demi mempercepat pengerjaan jembatan. Ini sangat berpahala, apalagi menyangkut ambulans dan kendaraan darurat,” ujarnya.

    Hamid juga mendorong agar Bupati Probolinggo tidak hanya menunggu instruksi dari pusat, melainkan proaktif menekan percepatan di lapangan. Terlebih, ruas Jalan Teuku Umar hingga jalur pantura merupakan jalur vital penghubung ekonomi antarwilayah.

    Data di lapangan menunjukkan, kerusakan Jembatan Pajarakan lebih cepat terjadi dibandingkan dengan Jembatan Semampir, meskipun konstruksinya hampir serupa. Hal ini menimbulkan pertanyaan terkait kualitas pengerjaan dan ketahanan struktur jembatan.

    Sementara itu, dalam status WhatsApp milik Bupati Probolinggo, dr. M. Haris, yang diunggah pada pukul 08.16 WIB, Senin (14/4/2025), ia menyampaikan:

    “Kemacetan Jembatan Pajarakan, banyak yang mengusulkan agar alternatif tol dibuka sementara. Sejak awal terjadi kemacetan, kita sudah menghubungi Jasa Marga. Jasmar sih oke saja, tapi masalahnya penggunaan tol harus seizin Menteri PU. Lajur baru juga baru siap satu sisi saja sementara, dan banyak prosedur yang harus dilalui. Ini sudah kita usulkan sejak awal kemacetan kemarin. Koordinasi juga telah dilakukan dengan pihak Polri.

    Konstruksi bajanya memang sudah mengalami korosi, sudah waktunya peremajaan, sehingga mudah sobek. Proses sedang kita ajukan untuk peremajaan.”

  • Usai hari raya Idul Fitri 1446 Hijriah. Pemerintah kecamatan Pajarakan Adakan Halal Bihalal.

    Usai hari raya Idul Fitri 1446 Hijriah. Pemerintah kecamatan Pajarakan Adakan Halal Bihalal.


    Pemerintah Kecamatan pajarakan probolinggo, menggelar acara Halal bihalal . usai libur Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah . Bersama seluruh kepala desa Se – kecamatan pajarakan. Komandan koramil ,0820/15 pajarakan , kapolsek , BPD, Bhabinkamtibmas, Babinsa, Tim Penggerak PKK, Tokoh agama dan tokoh masyarakat, di pendopo kantor kecamatan gading pada hari Senin. 14 /04/2025 .

    Dalam sambutannya camat pajarakan, Sudarmono, ST.MM, menyatakan adanya acara halal bihalal tersebut. Selain untuk bersilaturahim juga mereview target – target kinerja selanjutnya.

    ” Di moment usai Idul Fitri ini dan masih di bulan Syawal . kita bersama seluruh pemerintahan desa di Pajarakan melaksanakan halal bihalal dengan tujuan untuk mempererat tali solaturahim. Dan maaf bermaafan . di kesempatan ini kita juga saling mereview . target-target kinerja Apa yang akan kita capai di triwulan keduanya . dengan harapan apa yang menjadi amanah dari Bapak Pimpinan bisa kita laksanakan dengan baik dan target sasaran bisa tercapai ” Imbuhnya.

    Sementara adanya halal bilhalal tersebut disambut positif oleh Kepala Desa karanggeger. Bawon santoso, dirinya mengungkapkan moment tersebut untuk memperkuat hubungan antar instansi dan antar kepala desa.

    ” Semoga acara halal bilhalal di bawah kepemimpinan Pak Camat pajarakan saat ini . semakin mempererat hubungan antar kepala desa sekeacamtan pajarakan ‘ dalihnya. Dalihnya. Hery.

     

  • Jalan Diaspal, Tebing Diperkuat: Aksi Nyata Baginda Purnomo untuk Desa Patemon Lebih Baik

    Jalan Diaspal, Tebing Diperkuat: Aksi Nyata Baginda Purnomo untuk Desa Patemon Lebih Baik

    PROBOLINGGO, KabarBromo66.com – Langkah kaki Baginda Purnomo bersama jajaran Pemerintah Desa Patemon terhenti sejenak di sisi jalan Dusun Patemon Utara pada Senin pagi itu (14/4). Pandangannya menelusuri proses pengaspalan yang masih berlangsung, sekaligus merasakan sensasi mengendarai mesin slender dan penaburan batu koral, sementara di sisi lain, tembok penahan tebing tampak berdiri kokoh dalam pengerjaan. Bagi Kepala Desa Patemon, Kecamatan Krejengan, ini bukan sekadar rutinitas inspeksi. Ini bentuk tanggung jawab yang dijalankan dengan penuh kesadaran.

    Pemerintah Desa Patemon mulai merealisasikan anggaran Dana Desa (DD) tahap pertama tahun 2025 dengan dua fokus utama: pembangunan tembok penahan tebing (TPT) di dua titik Dusun Patemon Utara RT 02 RW 03 dan pengaspalan jalan desa di RT 03 RW 03. Kedua proyek itu merupakan bagian dari usulan prioritas warga melalui forum ringdes tahun sebelumnya.

    “Kami tidak hanya ingin membangun, tapi memastikan kualitasnya bisa dinikmati warga dalam jangka panjang,” ujar pria yang akrab disapa Baginda saat meninjau lokasi. Ia ditemani beberapa perangkat desa yang memantau progres lapangan.

    Kepala Desa Patemon, Baginda Purnomo, mencoba menabur batu koral pada proses pengaspalan.

    Pembangunan ini bukan tanpa alasan. Topografi Patemon yang sebagian besar berbukit membuat TPT menjadi kebutuhan mendesak, terutama menghadapi ancaman longsor saat musim hujan. Sementara itu, pengaspalan jalan di RT 03 RW 03 menjadi akses vital bagi aktivitas warga, mulai dari pertanian hingga transportasi anak sekolah.

    Baginda menuturkan bahwa seluruh pengerjaan dilakukan dengan pengawasan ketat, mulai dari pemilihan material hingga teknis pelapisan. “Kualitas bahan jadi perhatian utama kami, karena kalau asal, nanti warga juga yang rugi,” katanya.

    Sejak awal menjabat, Baginda dikenal sebagai kepala desa yang getol memperjuangkan pembangunan berbasis aspirasi warga. Ia menyebut program ini sebagai hasil konkret dari komunikasi dua arah antara pemdes dan masyarakat. “Ini usulan warga sendiri, kami hanya menjembatani agar cepat terealisasi,” ujarnya.

    Ia berharap pembangunan infrastruktur tersebut tak hanya memperlancar mobilitas warga, tetapi juga memperkuat rasa aman dari risiko bencana. “Tebing kita perkuat, jalan kita buka. Kalau akses bagus, ekonomi warga juga bisa bergerak lebih cepat,” tuturnya.

    Kepala Desa Petemon, Baginda Purnomo, silaturahmi menyapa warganya dari rumah ke rumah.

    Sebagai penutup, Baginda menegaskan bahwa pemerintah desa akan terus membuka ruang dialog dan masukan dari masyarakat. “Karena pembangunan desa itu bukan sekadar proyek, tapi proses panjang membangun kepercayaan dan kesejahteraan bersama,” kata dia.

    Rombongan kemudian melanjutkan kegiatan silaturahmi menyapa warga, usai Hari Raya dengan melakukan kunjungan dari rumah ke rumah. Baginda Purnomo, selaku kepala desa, menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin, “Minal aidzin wal faidzin.”

  • Kalah Cepat dari LSM! Noval Yulianto, Bendahara LIRA, Lebih Gesit dari Pemkab soal Sengketa Aset Desa Tanjungsari

    Kalah Cepat dari LSM! Noval Yulianto, Bendahara LIRA, Lebih Gesit dari Pemkab soal Sengketa Aset Desa Tanjungsari

    Probolinggo, KabarBromo66.com – Setelah bertahun-tahun dikuasai ahli waris pemilik tanah, Kantor Desa Tanjungsari, Kecamatan Krejengan, akhirnya kembali ke tangan pemerintah desa secara persuasif dan kekeluargaan.

    Kembalinya aset desa itu difasilitasi oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Kabupaten Probolinggo. Ketua tim investigasi sekaligus Bendahara LIRA, Noval Yulianto, mengonfirmasi keberhasilan itu saat dikonfirmasi pada Jum’at (12/4).

    “Alhamdulillah, LSM LIRA berhasil membantu Pemdes Tanjungsari untuk mencari kata mufakat dengan pihak ahli waris. Kini kantor desa yang lama bisa digunakan kembali,” ujarnya lewat pesan WhatsApp.

    Sebelumnya, sengketa lahan ini bahkan sempat ditangani langsung oleh Pj Bupati Probolinggo kala itu, Ugas Irwanto. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil hingga akhirnya pendekatan kekeluargaan membuahkan kesepakatan damai.

    Pada momen simbolis kemarin, Yono, Kepala Desa Tanjungsari, bersama Noval Yulianto, Bendahara LSM LIRA, membuka gerbang kantor desa lama. Seluruh perangkat desa langsung melakukan kerja bakti dan membersihkan area. Barang-barang milik ahli waris pun dipindahkan tanpa merepotkan pihak keluarga.

  • Probolinggo Masih Kekurangan Fasilitas dan Event Besar, tapi Lomba Kicau Jalan Terus

    Probolinggo Masih Kekurangan Fasilitas dan Event Besar, tapi Lomba Kicau Jalan Terus

    Probolinggo, KabarBromo66.com – Ratusan kicau mania dari berbagai daerah memadati arena gantangan Gajah Mada Bird Community di Desa Karangbong, Kecamatan Pajarakan, Minggu (13/4). Lomba kicau burung yang digelar tim Ambulans Probolinggo SF ini sukses menyedot antusias peserta maupun penonton.

    Event tahunan yang sudah berjalan selama tiga tahun ini tak hanya menjadi ajang kompetisi antar burung berkualitas, tapi juga wadah silaturahmi para pecinta burung se-Nusantara. “Alhamdulillah tahun ini acaranya berjalan lancar. Cuaca cerah, peserta ramai, dan semuanya guyub. Tujuan kami memang lebih ke silaturahmi antar tim,” ujar Mr. Pepen, perwakilan tim Ambulans Probolinggo SF.

    Dalam lomba tersebut, panitia menghadirkan juri dari RI (Radjawali Indonesia) yang dinilai independen dan berkompeten. Penilaian lomba mengacu pada sejumlah aspek teknis seperti volume suara, irama, dan variasi isian burung. Kelas yang dilombakan pun beragam, mulai dari kenari, cucak ijo, murai batu, cendet, lovebird, dan lainnya.

    Salah satu peserta dari Pasuruan, Dendi Wahyu Adyasa alias Saprol, mengaku puas dengan sistem penjurian. “Juri terbuka, nggak ada yang ditutup-tutupi. Penilaian fair, papan skor ditampilkan langsung. Burung kerja atau nggak kelihatan, dan juara memang layak,” ungkapnya. Ia sendiri menurunkan tiga burung kenari dalam lomba tersebut.

    Sementara itu, Mas Bro dari tim ASF Asembagus, Kraksaan, menyebut kegiatan ini sebagai momentum mempererat persaudaraan antar penghobi burung. “Silaturahmi jalan, pedagang juga laris. Dampaknya positif buat semuanya,” katanya sambil menunjukkan burung cucak ijo miliknya yang sudah enam tahun malang melintang di berbagai gantangan.

    Pepen berharap, ke depan Probolinggo bisa memiliki ikon perlombaan seperti di kota-kota besar. “Kita ingin seperti event prasasti di Malang dan Surabaya, tapi memang fasilitas masih terbatas. Semoga ke depan bisa lebih berkembang,” pungkasnya.

  • Perangkat Desa Tamansari Arogan, Akses Jalan Diblokade Batu, Ban Mobil Warga Sampai Rusak

    Perangkat Desa Tamansari Arogan, Akses Jalan Diblokade Batu, Ban Mobil Warga Sampai Rusak

    Probolinggo, KabarBromo66.com – Akses jalan umum di Dusun Krajan RT 01 RW 01, Desa Tamansari, Kecamatan Kraksaan, ditutup sepihak oleh salah satu perangkat desa setempat. Aksi itu dilakukan Rifai, yang juga tengah membangun rumah di tepi jalan tersebut.

    Warga setempat mengaku geram karena jalan yang biasanya bisa dilalui mobil, kini menjadi sempit dan bahkan sempat ditutup dengan batu besar di tengah jalan. Penutupan jalan itu sudah berlangsung sejak pembangunan rumah Rifai dimulai, lantaran pondasi tembok rumahnya memakan badan jalan sekitar setengah meter.

    “Batu itu pernah bikin ban mobil saya rusak. Saya singkirkan diam-diam karena kalau ngomong baik-baik, pasti tidak dibolehkan,” ujar Ir, salah satu warga yang kesal atas sikap Rifai yang dinilai arogan.

    Saat batu disingkirkan, justru istri Rifai memarahi warga dengan nada tinggi. Ia bersikeras bahwa jalan yang sudah digunakan masyarakat puluhan tahun itu separuh adalah miliknya.

    “Mobil tidak boleh lewat sini!” teriaknya, seperti ditirukan warga.

    Sumber gambar: Dokumentasi Hosni, Kepala Desa Tamansari

    Peristiwa itu pun sudah beberapa kali dilaporkan ke Kepala Desa Tamansari, Hosni. Sang kades sempat turun tangan dan berjanji akan menangani. Bahkan sempat dilakukan pengukuran jalan oleh perangkat desa lainnya dan ditemukan bahwa benar pondasi rumah Rifai memakan badan jalan.

    “Ini sudah jadi tanggung jawab kepala desa. Kalau dibiarkan terus, warga bisa tambah resah,” tegas Ir.

    Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp pada (13/4), Hosni, Kepala Desa Tamansari, menjawab: “Waalaikumsalam,, sdh sy tangani ms, 2 orang yg bersih2.”

  • Polemik Panja Pupuk, DPRD vs Gubernur LIRA: Siapa yang Benar?

    Polemik Panja Pupuk, DPRD vs Gubernur LIRA: Siapa yang Benar?

    Probolinggo, KabarBromo66.com – Pembentukan Panitia Kerja (Panja) oleh DPRD Kabupaten Probolinggo terkait permasalahan pupuk, disoal dan disorot oleh sejumlah pemerhati.

    Gubernur LIRA Jawa Timur, Samsudin, dalam sebuah grup WhatsApp menyatakan bahwa istilah “Panja” tidak ditemukan dalam Tata Tertib DPRD yang terbaru.

    “Di dalam Tatib DPRD 2024 tidak ada ditemukan istilah Panja. Yang ada adalah Pansus,” tulis Samsudin pada Minggu (13/4/2025).

    Tak hanya itu, dalam sebuah kanal YouTube, Samsudin juga menilai kinerja Panja Pupuk DPRD Kabupaten Probolinggo tidak membawa hasil signifikan.

    “Menurut saya, sebagai aktivis dan putra daerah Kabupaten Probolinggo, tidak ada gunanya. Panja hanya terkesan membangun pencitraan, hanya membuat panggung dengan menggunakan anggaran negara,” tegasnya.

    Menanggapi hal ini, Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo, Oka Mahendra Jati Kusuma, memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa pembentukan Panja Pupuk tidak menyalahi aturan.

    “Panja ini bukan alat kelengkapan dewan. Ini hanya penamaan dari rapat kerja atau panitia kerja. Dalam Tata Tertib memang tidak disebut secara eksplisit, namun rapat kerja itu bagian dari mekanisme resmi yang ada,” ujar Oka saat dikonfirmasi.

    Ia menambahkan, Panja ini dibentuk berdasarkan usulan anggota dewan dalam forum paripurna yang dipimpin ketua dan wakil ketua DPRD.

    “Soal legalitasnya, tidak ada masalah. Panja ini lahir dari usulan anggota karena ada permasalahan serius terkait pupuk,” jelasnya.

    Terkait durasi kerja Panja, Oka menyebut tidak ada batasan waktu yang baku seperti pada pembentukan Pansus. Namun pihaknya menargetkan rekomendasi final sudah keluar pada akhir April.

    “Kita berharap tidak berlarut-larut karena masyarakat menunggu solusi. Jadi target kita, April ini sudah ada rekomendasi final dari Panja,” kata Oka.

    Ia menegaskan, Panja hanya memberikan rekomendasi, bukan keputusan eksekusi.

    “Kalau hasil rekomendasinya misal mencabut izin distributor pupuk, itu tetap rekomendasi. Eksekusi tetap di tangan pemerintah daerah atau kementerian terkait,” jelasnya.

    Menjawab isu tumpang tindih dengan Satgas Pupuk yang sudah dibentuk sejak Januari, Oka menjelaskan bahwa keduanya memiliki fokus berbeda.

    “Satgas lebih pada pelaksanaan teknis. Sementara Panja lebih ke pengawasan dan merumuskan rekomendasi kebijakan. Jadi tidak tumpang tindih,” ujarnya.

    Oka juga membantah adanya penggunaan anggaran untuk Panja ini.

    “Teman-teman Panja tidak menerima anggaran apapun. Semua dijalankan secara mandiri, murni semangat untuk mengurai masalah pupuk,” tegasnya.

    Menurut Oka, sejak Panja dibentuk, sudah ada efek positif berupa penurunan harga pupuk di lapangan.

    “Ini bukti bahwa Panja bukan sekadar simbolik. Kami akan terus bekerja sampai persoalan pupuk ini tuntas,” pungkasnya.