PROBOLINGGO, kabarbromo.com — Sorotan terhadap efisiensi belanja Pemerintah Kabupaten Probolinggo kembali mengarah ke Badan Pengelolaan Pendapatan, Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD). Pasalnya, anggaran perjalanan dinas pada Tahun Anggaran 2026 di instansi tersebut tercatat mencapai Rp467.797.135.
Berdasarkan penelusuran data pengadaan, porsi terbesar anggaran tersebut dialokasikan untuk kegiatan bertajuk Penyelenggaraan Rapat Koordinasi dan Konsultasi SKPD. Dua paket belanja perjalanan dinas biasa dalam subkegiatan tersebut masing-masing menelan anggaran sekitar Rp228,57 juta dan Rp105,82 juta.
Yang menjadi perhatian, sebagian alokasi anggaran itu bersumber dari Dana Bagi Hasil (DBH) Pajak Rokok dan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). Penggunaan sumber pendanaan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai urgensi, proporsionalitas, serta manfaat belanja perjalanan dinas bagi peningkatan kualitas pelayanan publik.
Menanggapi kritik yang berkembang, Sekretaris BPPKAD Kabupaten Probolinggo, Aris Purwanto, berulang kali membantah adanya inefisiensi anggaran. Ia berdalih, anggaran ratusan juta rupiah tersebut dialokasikan untuk menunjang kebutuhan lima bidang dan sekretariat yang memiliki intensitas mobilitas kedinasan cukup tinggi.
Aris juga menyebut besaran anggaran tersebut relatif kecil apabila dibandingkan dengan alokasi perjalanan dinas OPD lainnya. Menurutnya, perjalanan dinas dilakukan untuk memenuhi undangan maupun kepentingan koordinasi dengan BPK Perwakilan Jawa Timur, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, hingga DPRD.
“Semua perjalanan dinas tersebut sudah sesuai perencanaan dan kebutuhan BPPKAD. Untuk efisiensi, kami juga sudah mengurangi kegiatan ke luar kota,” dalih Aris ketika dikonfirmasi Tim Jurnalis.
Namun, penjelasan tersebut justru menuai kritik keras dari kalangan aktivis pengawasan kebijakan publik. Ketua LSM Aliansi Masyarakat Peduli Probolinggo (AMPP), Lutfi Hamid, menilai argumentasi Sekretaris BPPKAD tidak menjawab substansi persoalan, yakni urgensi dan efektivitas penggunaan anggaran.
“Pembelaan Sekban BPPKAD itu apologi yang sangat konyol dan menggelikan. Menggunakan dalih lebih kecil dari dinas lain untuk membenarkan besarnya belanja merupakan kesesatan berpikir birokrasi. BPPKAD adalah benteng pengelolaan keuangan daerah. Semestinya menjadi contoh efisiensi atau role model, bukan justru berlindung di balik perbandingan dengan OPD lain,” tegas Lutfi Hamid saat dimintai tanggapan, Rabu (4/11/2026).
Lutfi juga mempertanyakan penggunaan DBH Pajak Rokok dan PKB untuk membiayai perjalanan dinas serta paket pertemuan internal instansi. Menurutnya, pemerintah daerah harus mampu memastikan setiap rupiah uang rakyat memberikan manfaat yang terukur bagi masyarakat.
Ia menilai, belanja yang bersumber dari penerimaan pajak semestinya dikelola secara cermat dan diarahkan pada program yang memberikan dampak nyata terhadap pembangunan, infrastruktur, kesehatan, serta peningkatan kualitas pelayanan publik.
“Alasan sering bolak-balik koordinasi ke BPK Jawa Timur atau Pemprov juga perlu diuji urgensinya di tengah perkembangan teknologi digital. Jangan sampai agenda konsultasi dan rapat koordinasi menjadi dalih untuk mempertahankan besarnya pagu anggaran menjelang akhir tahun. Rapat dengan anggaran ratusan juta itu apa output-nya bagi peningkatan PAD? Publik tidak membutuhkan pejabat yang rajin bepergian dengan dalih koordinasi. Publik membutuhkan hasil kerja yang nyata,” cetusnya.
Atas persoalan tersebut, AMPP mendesak Inspektorat Kabupaten Probolinggo melakukan pemeriksaan terhadap perencanaan, pelaksanaan, hingga pertanggungjawaban perjalanan dinas BPPKAD. AMPP juga meminta BPK menjalankan fungsi pemeriksaan sesuai kewenangannya untuk memastikan kesesuaian realisasi belanja dengan ketentuan pengelolaan keuangan negara.
Lutfi menegaskan, pemeriksaan tidak boleh berhenti pada kelengkapan administrasi. Menurutnya, aspek kewajaran biaya, kesesuaian perjalanan dengan surat tugas, bukti kehadiran, dokumen transportasi, penginapan, hingga hasil kegiatan perlu diuji secara menyeluruh.
Ia juga meminta aparat penegak hukum menindaklanjuti apabila dalam pemeriksaan ditemukan bukti awal penyimpangan, termasuk dugaan perjalanan dinas fiktif atau penggelembungan biaya (mark-up).
Di tengah tuntutan efisiensi belanja daerah, besarnya anggaran perjalanan dinas BPPKAD kini menjadi ujian tersendiri bagi komitmen birokrasi dalam mengelola uang publik. Terlebih, instansi yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan keuangan daerah semestinya mampu menunjukkan bahwa prinsip efisiensi bukan sekadar jargon dalam dokumen perencanaan, melainkan tercermin dalam setiap realisasi anggaran. (*)











